Ulasan dari World Development Report 2020: Global Value Chain (GVC) dan pertumbuhan

Tema World Development Report (WDR) 2020 dari World Bank (WB) kali ini adalah tentang GVC! Dalam buku kali ini, WB mengevaluasi banyak sekali temuan dari kesuksesan berintegrasi dengan ekonomi global dari negara-negara yang telah berhasil mengusir kemiskinan dengan sangat sukses. Tema utamanya tentu saja mengenai perlambatan pertumbuhan GVC. Global Financial Crisis 2008 (GFC) diikuti dengan salah satu penurunan terbesar perdagangan internasional, dan trennya belum kembali ke masa-masa keemasan global trade, yaitu 1990an sampai 2000an. Negara-negara ramai-ramai mendirikan barir perdagangan (trade barrier) sejak saat itu. Tentu saja termasuk Indonesia. Apakah artinya GVC akan mati?

BTW, reportnya bisa didownload secara gratis di link ini

GVC, kunci sukses menjadi kaya

Ekonom telah lama mengamati fenomena GVC. Tidak seperti jaman dahulu di mana perdagangan internasional didominasi oleh barang jadi, GVC mempreteli barang-barang jadi tersebut ke dalam berbagai macam bagian-bagian. Bagian-bagian tersebut kemudian disub-kon ke negara-negara lain. Contohnya adalah Sepeda. Coba lihat gambar di bawah ini.

Gambar GVC Sepeda dari Halaman 120

Dengan mempreteli sepeda jadi berbagai bagian, perusahaan di satu negara tidak harus memiliki pengetahuan, kemampuan dan bahan-bahan untuk membuat sebuah sepeda. Misalnya si negara itu cuma jago bikin blueprint, maka si negara itu bisa mengimpor parts-parts dari negara lain, trus dirakit jadi sepeda. Sebuah negara dapat terlibat di pembuatan sepeda tanpa harus bisa kerjain satu sepeda secara utuh. Indonesia, misalnya, bisa cukup spesialisasi di pembuatan ban, lalu menjualnya ke negara yang mau bikin sepeda.

Bahkan, tanpa harus bisa bikin sepeda, jika tukang sepeda ada banyak, maka Indonesia bisa bikin ban saja, lalu mengekspornya kepada banyak negara. Bahkan jika sebuah negara bikin sepeda untuk seluruh dunia, maka kemungkinan dia akan perlu banyak sekali ban. Intinya, dengan konsenstrasi di pembuatan ban, maka Indonesia akan punya cukup economies of scale untuk menyuplai ban dengan harga yang kompetitif. Secara total, harga sepedanya juga bisa ditekan, dan seluruh dunia akan untung.

Tentu saja jika kita ingin upgrade menjadi pembuat sepeda, ya bisa-bisa saja. Tapi pretelan kayak gini sangat membantu kita untuk upgrade secara perlahan. Sebelum bisa bikin sepeda, bikin ban dulu. Spek kita dapat dari pembeli. Lama-lama kita jadi belajar kenapa mereka butuh ban yang speknya seperti itu. Lalu kemudian bisa naik dikit, mungkin bikin spoke, bikin brake, gear, dst sblm akhirnya bikin sepeda. Trik naik kelas pelan-pelan ini juga merupakan resep negara-negara asia timur lain seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan RRT. Samsung dan Huawei dulu juga cupu. Mulainya dari manufaktur yang low-tech, belajar (bahkan mencuri) dari negara-negara barat untuk upgrade teknologinya.

Tentu saja agar hal ini dapat terealisasi, kebijakan perdagangan dan investasi haruslah mengakomodir. Sepeda seperti itu hanya dapat terealisasi jika perdagangan barang antar negara menjadi lancar. Hambatan tarif dan non-tarif harus dikurangi. Birokrasi yang lelet dan infrastruktur yang buruk harus dibenahi. Sehari telat pengiriman barang dapat mengurangi perdagangan internasional setara dengan 1% penambahan tarif. Iklim investasi yang baik akan memacu know-how dari negara yang lebih canggih dari kita teknologinya untuk masuk. Perusahaan-perusahaan ini dapat memacu spill-over effect, karena mereka akan butuh tenaga kerja yang pintar dan supplier yang lebih canggih. Spek tentu saja dari mereka, dan suplier lokal dapat belajar dari situ.

FDI tidak akan betah kalau negara yang dia tongkrongin ternyata nggak bisa kasih supply yang baik, baik tenaga kerja maupun input lokal, dah gitu juga input impor pun dipersulit. Apalagi kalau terlalu banyak kebijakan yang mendistorsi perekonomian, membuatnya jadi tidak efisien. Dan itu nggak teori doang, tapi juga sudah banyak bukti empirisnya. Berikut contoh dari Bangladesh dan RRT yang ditongolin oleh buku ini di halaman 45. Satu lagi contoh yang dianggap sukses adalah Vietnam, bahkan Vietnam dapat box sendiri. Tapi itu baca sendiri yak :p

Gambar Dampak FDI dari Halaman 45 Gambar Dampak Trade dari Halaman 450

Keterlibatan di GVC macem-macem. Nih ada peta dunianya yang menunjukkan sejauh mana, dalam hal kompleksitas barang dan jasa, keterlibatan Dunia dalam ber-GVC.

Gambar Level Keterlibatan GVC dari halaman 21

Written on May 19, 2020