Aku, Canberra, dan COVID-19

Hae gais. Dah lama banget saya gak update blog. Kesibukan lagi agak menggila nih. Semua gara-gara COVID-19.

Seperti mungkin teman-teman ketahui, si novel coronavirus ini udah bikin geger dunia. Masalah yang ditimbulkan oleh si virus, berubah begitu cepat, jauh lebih cepat daripada pemerintah dan rakyat jelata bereaksi. Waktu pertama kali COVID-19 mulai ramai, saya begitu kaget dan gak tau mau ngapain. Kerjaan saya cuma liat-liat berita aja. Saat ini saya di Australia, tapi setengah pikiran saya ada di Depok, tempat berdiam keluarga saya terutama ibunda yang sudah 70++. Saya hanya bisa menawarkan doa dan support untuk adek yang bantuin ngurusin kebutuhan ibu.

Di kampus sendiri, saat ini semua pengajaran sudah diinstruksikan secara on-line, menyusul instruksi perdana menteri untuk melarang pertemuan di dalam ruangan. Sebagai tutor ECON3101 (microeconomics 3), saya tentu kebagian getahnya. Saya harus mempersiapkan konten on-line untuk tutorial yang akan saya kerjakan. Semua seminar dan konsultasi dengan pembimbing tugas akhir juga harus dilakukan secara online. Agak sedikit ribet karena saya jadi harus belajar pakai zoom baik untuk merekam tutorial maupun untuk ikutan / ngehost meeting, Untungnya gak terlalu sulit.

Masyarakat panik dan melakukan panic buying, seperti yang mungkin sudah anda lihat di media sosial. Tisu toilet gak bersisa sama sekali udah seminggu ini. Untungnya kami sebagai pengguna gayung dan ember gak terlalu peduli. Tapi komoditas lain seperti anti-septic juga habis. Terakhir kami cek sih bahan makanan masih aman. Mudah-mudahan aman terus. Perdana Menteri Scott Morrison sudah mengutuk penimbunan dan menjamin bahwa sistem logistik Australia akan tetap mampu menjaga ketersediaan barang-barang yang penting.

Kemarin pagi, Pak Scott Morrison melakukan konpers tentang apa yang akan dilakukan Australia. Semua international flight akan dilarang (kecuali WN Australia yang pulang) untuk menutup kemungkinan penularan impor. Hal ini dilakukan sehingga pemerintah dapat fokus ke mencegah penularan internal. Sekolah akan tetap buka, dan kemungkinan besar tidak akan dilakukan lockdown sama sekali. Kumpul-kumpul diatur jumlah orangnya. Di dalam ruangan, 100 orang ke atas dilarang. Di luar, 500. Beliau juga menyatakan bahwa tim khusus, pemerintah pusat dan pemerintah daerah semua sudah satu suara dan saling support dalam rangka menghadapi COVID19 ini. Social distancing juga disarankan, dan jika dapat bekerja di rumah, maka kerjalah di rumah.

Semua aturan ini (larangan kumpul, international travel ban, social distancing, dst) diantisipasi akan menjadi norma untuk minimal 6 bulan ke depan.

Enam. Bulan. Ke. Depan.

Kampus ku langsung bereaksi. Surel berdatangan ke inbox-ku. Berbagai imbauan untuk kerja di rumah, mengambil data, pengaturan agar bisa kerja di rumah, dan imbauan serta arahan bagaimana bikin online tutorial, semua berdatangan. Kebayang manajemen kampus pasti sibuk setengah mati. Sebagai pegawai yang baik, yang dapat saya lakukan adalah mematuhi semua imbauan itu, dan sedapat mungkin bekerja dari rumah.

Kegiatanku sekarang lagi sibuk-sibuknya koordinasi pengajaran online dengan dosennya, belajar bikin konten, dan memastikan saya dan istri memiliki cukup contingency plan untuk mempersiapkan yang terburuk. Kami anti nimbun, jadi moga-moga prinsip ini tidak harus membuat kami mati kelaparan. Saya lumayan percaya sama pemerintah Australia.

Mungkin ya yang agak menyebalkan sekarang adalah saya jadi harus ngikutin perkembangan COVID19 secara intensif di dua negara. Pidato Scott Morrison dan Jokowi dua-duanya jadi harus saya tonton. hahaha

Stay safe people. Stay healthy. Cuci tangan yang sering. Kurangin pergi-pergi ke luar. Mudah-mudahan kita semua dapat melalui ini semua.

Written on March 19, 2020